Semalam Di Ponpes

Mungkin dua tahun lalu, berawal dari ajakan seorang teman untuk bergabung dalam komunitas ini. Namanya familiar sih, GusDurian. Iya, ada hubungannya dengan Gus Dur, sosok yang menjunjung tinggi pluralism. Dasarnya saya orang yang suka mencoba hal yang baru, maka bergabunglah saya. Waktu itu pertemuan pertama di selenggarakan Kesekretariatan GusDurian Sidoarjo. Komunitas ini terdiri dari berbagai agama, sangat plural. Saat itu sepertinya dari pemeluk Katolik hanya kami dari Paroki Salib Suci tropodo dan Paroki Santo Paulus Juanda. Awalnya memang canggung, baru pertama ketemu ternyata GusDurian dengan ketua Mas Dodi Markesot (nama bekennya di FB) telah berencana mengadakan sebuah acara Youth Camp dengan tujuan untuk mengguyubkan orang muda dari berbagai latar belakang agama. Saya dan teman-teman yang saat itu baru datang pertama kali langsung ketiban sampur, dimasukkan kedalam daftar panitia. Entah hasil konspirasi apa, nama saya disebut sebagai koordinator acara. Ngok! Edan lho ini, okelah kalau acara dalam tingkat paroki, lah ini melibatkan banyak komunitas. Saya sempat bernegosiasi tipis-tipis dengan Om Iryanto, waktu itu dia provokator kami untuk ikut acara ini. Negosiasi nggak mempan, meskipun saya menawarkan untuk jadi anggota acara saja. OK, baiklah, dengan sedikit terpaksa saya mengiyakan. Berarti waktu akan habis lagi dengan tambahan kegiatan ini. Kami pemuda gabungan Islam, Kristen, Hindu, Budha, Kong Hu Chu, Katolik membaur menjadi satu kepanitiaan dengan didampingi pembimbing masing-masing. Tentunya dengan karakter bawaan yang berbeda-beda.

Beberapa kali pertemuan selalu diadakan jam 20.30, cukup membuat lelah karena jangkauan area kami yang berpencar cukup jauh. Tapi ya sudahlah, komitmen dari awal untuk menyukseskan acara ini yang membuat kami mbelani datang malam hari. Dinamika kelompok yang cukup membuat terheran dan bingung, karena semua diluar kebiasaan kami yang biasa urus acara ini itu di paroki SS. Disini saya berbagi dari sudut pandang, kami, OMK paroki SS. Saya belajar sangat intensif tentang fleksibilitas, dan itu…susah banget. Sampai membuat otak hampir kram dan hati ingin menyudahi saja keterlibatan dalam acara ini. Oke, saya waktu itu memang agak lebay, hahaha! Pengalaman pertama pegang acara lintas agama, dengan skala yang lumayan cukup besar. Membuat saya cenat cenut nggak karuan. Mulai pemilihan lokasi, protokoler, tema, konsep acara, dan dana yang masih nol rupiah sampai kalau nggak salah h-14 hari sebelum acara. Kegiatan seperti ini memang susah sekali dalam penggalangan dana. Tapi berkat mas Dodi Markesot and team, akhirnya aliran dana berjalan lancar. Saat itu, diputuskan pondok pesantren ASW (Ahlus-Shofa  Wal-Wafa) Sidoarjo menjadi tempat dilaksanakannya acara ini. Saya lupa tema yang diangkat waktu itu, padahal kami juga yang menentukan. Maklum, kapasitas otak yang terbatas untuk menyimpan memori. Perubahaan konsep acara beberapa kali juga membuat saya senewen dan pengen mutung. Saya masih ingat, saat itu mas Dodi dan mas Bagus ketua panitia dari komunitas Hindu datang ke paroki SS pas saya sedang akan berlatih paduan suara. Intinya, saat itu mereka minta maaf atas ketidaknyamanan dari perubahaan konsep acara yang berulang kali, karena beberapa alasan. Sempat agak baper waktu itu, tapi ada Om Iryanto yang mencoba ngademin saya. Itulah tadi, keluar dari zona kebiasaan membuat saya jadi nggak nyaman, baper, emosian. Mungkin karena ini pertama kali saya mengkoordinir acara diluar zona aman, jadi sisi emak-emak perfeksionis saya meliar. Tapi saya belajar banyak dari rekan-rekan komunitas ini. Belajar memiliki kebesaran hati, jadi sedikit tahu tentang kebiasaan ponpes yang kayaknya hampir mirip dengan seminari, belajar fleksibel dan nggak kaku dengan kebiasaan cara menyelenggarakan acara. Bertemu dengan para pembicara dari Rm. Kurdo Irianto (kebetulan saya tahu beliau waktu saya masih BIAK di paroki Algonz) sampai bertemu dengan mbak Yenny Wahid yang humble. Masyarakat ponpes ini terlihat sangat hormat ke mbak Yenny, putri alm. Gus Dur. Kami berdiskusi tentang pandangan Gus Dur terhadap pluralism.

Dari mereka saya belajar berbesar hati meminta maaf, meskipun saya paham, secara teknis nggak ada yang bisa disalahkan. Ini cuma masalah ketidakpastian beberapa hal (begitulah, karena saya perempuan yang wegah dengan ketidakpastian, haha!). Maaf juga kalau saya baper waktu itu, ini demi kelancaran acara dan kenyamanan banyak pihak. Sungkem kagem mas Dodi dan mas Bagus, hihii! Bicara tentang kebiasaan penduduk ponpes, ada 1 hal yang membuat saya, wah. Ketika kami di bale-bale, tempat acara berlansung, saya melihat para santri merapikan sandal peserta yang nggak karuan di depan. Pernah tahu kebiasaan orang Jepang dalam meletakkan alas kaki mereka? Iya, dalam posisi menghadap siap pakai ketika kita akan memakai sandal, jadi nggak perlu di putar-putar lagi. Para santri ini nggak bisa lihat sandal berantakan, pokok harus rapih, hehe! Untuk menyiapkan konsumsi juga cekatan. Sigap dalam melayani sekitar 100 orang peserta. Jempol!!

Ada satu hal yang juga membuat saya terkesan. Waktu itu acara malam hari, sesi terakhir dengan Rm. Kurdo. Kami masih menunggu kedatangan beliau, sembari peserta diajak games ria oleh teman-teman paroki SS yang tergabung dalam panitia penghibur. Tiba-tiba saya dipanggil dengan salah satu santri, saya lagi-lagi lupa namanya. Dia memberitahukan bahwa Rm. Kurdo sudah hadir dan saya ditunggu diruang tamu. Oke, saya pikir, saya hanya akan berhadapan dengan Rm. Kurdo, nggak ada masalah tentang itu karena beliau saya yakin masih supel seperti dulu. Tapi ternyata, saya memasuki ruangan yang isinya para bapak kira-kira sekitar 15 an orang yang duduk melingkar di tikar. Ruangan ini semacam berkabut dengan asap rokok. Spontan saya membatin, mati aku, opo iki. Ada bapak yang menyuruh saya duduk dekat Rm. Kurdo, yang berarti saya harus melewati beberapa bapak. Duh, ini kayaknya saya nggak sopan bukan sih? Saya terlalu khawatir tentang tatapan berpuluh pasang mata disitu. Ternyata para bapak ini juga kepo tentang tema yang akan saya dan Rm. Kurdo bahas pada malam itu, kebetulan saya moderator bincang santai malam itu. Jadi sedikitlah saya menceritakan apa yang akan dibahas kepada para bapak dan sedikit berkoordinasi dengan Rm. Kurdo. Dengan agak susah bernapas, karena asap rokok yang luar biasa, saya bersusah payah bicara. Untungnya, waktu materi Rm. Kurdo sudah hampir tiba, jadi ada alasan bagi saya untuk memotong pembicaraan. Mungkin begini rasanya jadi bandeng asap kali ya. Head to toe, bau asap. Materi dengan Rm. Kurdo berlangsung gayeng yang bertemakan peran pemuda bagi bangsa mencuri perhatian peserta. Sekali lagi, saya belajar berhadapan dengan orang dari berbagai latar belakang. Keseluruhan acara sampai puncak ketika penyalaan lilin diiringi lagu Lilin Kecil menurut saya sih waktu itu berjalan lancar. Kata pendamping kami, acaranya kok khas OMK Paroki SS banget. Lah, mungkin karena tim acara banyak dari OMK Paroki SS.

Banyak wah wah lain yang saya lihat waktu itu. Sebelum acara ini, saya mewanti-wanti tanpa kompromi peserta dari Paroki SS untuk tidak bercelana pendek ketika di Ponpes. Tujuannya ya supaya menghormati saja. Bermalam di aula sederhana dengan beralas tikar pun tidak menjadi masalah bagi kami. Teman-teman santri juga nggak sekaku seperti yang saya kira. Kebanyakan dari mereka ramah, humble, helpful. Yang seru lagi, di hari terakhir kami diajari bernyanyi shalawat atau apa entah namanya. Lagu ini yang sering berkumandang di TOA masjid tepat sebelum adzan maghrib ciptaan Gus Nizam pimpinan Ponpes ASW judulnya Syi’ir Tanpo Waton. Kalau mendengar shalawat ini bersama teman-teman, kami masih bisa bergumam mengikuti nada dan sedikit banget lirik di bagian akhir. Ketika keluar dari zona nyaman, banyak hal baru yang memperkayamu.

Apa kabar teman-teman GusDurian sekarang? Semoga tetap semangat yaa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s