Belum Berjudul…(ending)

Subuh ini membangunkanku. Kakiku melangkah menyusuri jalan perumahan yang masih basah. Hujan semalam turun pertama kali di bulan Juni, kata tante yang mengira kotamu sudah masuk musim kemarau. Jadi ingat puisi itu, Hujan Bulan Juni, sebuah anomali. Sedari kemarin aku terlalu banyak bicara pada diriku, tidak tenang sama sekali. Jalan yang sepi pun memunculkan suara-suara yang memekakkan telinga. Aku tidak tahu jawaban atas pertanyaan ini, maka aku putuskan untuk tetap melangkah.  Langit sudah membiru bercampur jingga, matahari sah menggantikan bulan dan seakan meniadakan bintang. Aku merentangkan tanganku mengarah ke langit, sekuat tenaga mengambil udara menyimpannya sebentar di paru-paru lalu membuangnya. Dihirup, diambil energinya, lalu dihempaskan. Semoga semesta menaungi langkahku yang seakan sia-sia.

Rumah tante selalu beraroma kue, kali ini ada putu ayu hangat yang sudah bersabar menunggu mulut-mulut yang akan melahapnya. “Dimakan dulu putu ayunya, minum teh anget, mandi, sarapan seadanya, terus kamu langsung ke bandara kan?” perintah tante seraya bertitah. Aku mengucapkan terima kasih, sambil mengunyah kue beraroma pandan wangi dan menyeruput sedikit teh. Kudapan pagi ini membuat perut dan hati nyaman.

Aku selalu suka mengendarai roda empat di kota orang, bukan hanya kotamu. Pagi ini kotamu lengang, hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk menuju ke bandara. Dua temanku ini, rela melakukan penerbangan paling pagi ke kotamu.  Pelukanku bersambut lagi, memberikan energi tambahan untuk menyelesaikan hari ini kemudian kembali ke kotaku. Tawa mereka yang renyah sedikit menenangkan hati. “Masih ingat jalan menuju rumahnya?” Tanya temanku pesimis. Aku memicingkan mata sebelahku, mengerutkan alis mata, lalu menggelengkan kepala. Sontak kami tertawa. Tapi aku masih ingat alamatnya, teknologi kekinian pencari arah sangat membantu perjalanan ini. Keteganganku banyak berkurang sejak mereka datang. Mereka sudah membuat daftar apa saja yang akan dilakukan kalau bertemu denganmu. Membayangkan yang akan mereka lakukan saja sudah membuatku ngilu dan terbahak-bahak. Bukan aku saja yang sempat terluka karena keputusanmu. Mereka terkesan lebih terluka dengan kepergianmu. Umpatan, kutukan, amarah, ancaman sadis ngeri..seperti sekumpulan singa betina yang tidak rela kawanannya dilukai, mereka siap menerkammu. Mereka dulu memujimu seperti aku memujamu. Sosok yang sempurna dalam ketidaksempurnaan. Mungkin saat itu aku terlalu naïf, terlalu bodoh, atau terlalu sayang, tapi aku bersyukur karena belum terlanjur cinta.  Semoga alamatmu masih sama, karena hilang kontak ini membuatku harus berjudi dengan arah.

“Kamu nggak coba telepon dulu?” saran temanku. “Nomer teleponnya nggak bisa di kontak kan udah dari lama,” jawabku dengan level putus asa 30 persen. Aku memberikan telepon selulerku, ke teman yang duduk di sampingku. Dia mulai mencari namamu, dan menekan ikon berwarna hijau. Seketika melirikku dan menggerakkan mulutnya tanpa suara mengarah kepadaku dengan ejaan N.Y.A.M.B.U.N.G. Level putus asaku menurun 15 persen. Tapi kemudian, dia menggelengkan kepala karena kamu tidak menjawab panggilan masuk. “Sibuk, mungkin. Dulu kalau hari libur juga kerja kan,” aku berusaha memberi penjelasan pada teman-temanku, dan berusaha menenangkan diri dengan level putus asa yang meningkat drastis 40 persen. Berputar-putar di kotamu karena aplikasi peta ini yang rumit, atau penggunanya yang kurang pintar makin menambah tensi. Siang yang panas, berubah mendung gelap. Jangan dulu, jangan dulu turun hujan. Lalu siapa aku bisa meminta hujan untuk tidak jatuh, meskipun jatuh itu menyakitkan. Hanya hujan yang tetap setia untuk terus jatuh dan memberikan kehidupan. Aku mencoba lagi menelepon nomer  yang sama, tersambung, tapi terkesan diabaikan. Aku mulai mengingat daerah ini, melambatkan laju mobilk dan mengambil lajur paling kiri. Hujan mengaburkan pandangan diluar. Harusnya sudah dekat, irama jantungku semakin tak beraturan. Aku berhenti di sebuah rumah yang difungsikan sebagai kantor. Aku yakin ini tempatnya. Hujan mulai mereda, aku membuka jendela untuk melihat sisi seberang yang lain. Bangunannya sudah berubah sejak terakhir kali aku kesini. “Ini kantornya, seharusnya dia tinggal disitu,” aku menunjuk rumah seberang dengan ragu. Lalu tanpa dikomando, temanku nekat berlari di bawah hujan. Aku tidak bisa menghalaunya. Gila, mau apa dia. Detak jantungku beradu dengan cepatnya napasku, dengan cemas aku mencengkeram setir berharap dia tidak melakukan hal nekat. Aku meletakkan dahiku diatas setir, sambil berusaha menenangkan degup ini. Teman di sebelahku mencengkeram lenganku, seketika aku menoleh. Aku melihat temanku yang satu berlari kearah mobil. “Iya, betul itu rumahnya, dan ini kantornya,” jelas temanku sambil menyeka kepalanya yang basah karena gerimis. “Lalu, tunggu apa? Turunlah. Kami tunggu di sini,” temanku meyakinkan aku untuk turun dan mengetuk pintu rumah itu. Gila, ini gila. Setelah sekian lama, aku berada di depan rumahmu. Aku membeku, tapi detak jantung ini menyadarkan bahwa aku masih hidup. Aku butuh logikaku sekarang, aku perlu logikaku menguasai hatiku. Aku mengamati rumah dan kantornya dari dalam mobil. Jarak tinggal sejengkal, tapi terasa berkilometer jauhnya.

Mobil itu, yang membawamu meninggalkan pekerjaanmu demi aku. Aku yang saat itu sempat hampir menyerah karena mustahil memintamu meninggalkan pekerjaanmu demi aku. Aku menjadi yang kesekian. “Besok malam aku harus kembali kekotaku, hanya ini waktu kita untuk bertemu, tolong berusahalah,” pintaku setengah putus asa kaena posisimu yang sedang berada di luar kotamu. Jawabanmu sama sekali tidak membuatku tenang, tapi aku masih terus berharap. Terimakasih, sudah mau berusaha mengetuk pintuku di pagi itu dan meluangkan waktu disela tenggat waktu pekerjaan yang membuatmu seolah tidak memiliki kehidupan. Ruang kedap suara pasti rindu suara superstar mu, botol hijau itu pasti juga rindu kau teguk. Tapi kamu seperti tidak merindukan apa-apa.

Aku terdiam sambil meremat setir, dan berusaha berpikir. Lalu aku mengeluarkan telepon seluler ku dan mulai mengetik sebuah pesan singkat “Saya sedang berada di kotamu, boleh saya bertemu, sekali lagi? Besok pagi, saya sudah harus pulang dengan kereta pertama”. Lalu aku menekan simbol kirim.

“Kita kembali sekarang, ya…” ajakku sambil melihat kedua teman yang raut wajahnya penuh tanda tanya. “Kenapa? Tinggal selangkah ini,” temanku terheran. Aku masih menghormati diriku. Aku memacu kendaraan dengan cukup kencang, jalanan lengang ini seperti arena balap. Aku berjudi dengan situasi. Aku hanya menjadi milikku, tidak pernah milikmu. Tidak, bukan aku yang harus menemuimu. Tidak ada inginku untuk memilikimu sekali lagi. Aku hanya ingin membuktikan, bahwa lelaki yang dulu bukan pengecut yang bersembunyi di balik selimut. Bodoh, apa yang mau aku buktikan? Mungkin aku hanya ingin bukti, bahwa selama ini kamu bukan ilusi, bukan halusinasi. Hanya malam ini, tinggal malam ini waktuku. Dulu, kamu benar-benar merajamku dengan diam.

Menghabiskan malam di kotamu, tapi pikiranku terpenjara pada ponselku. Jariku menyentuh layarnya tanpa tujuan, kuliner nikmat ini jadi terasa hambar. Tinggal malam ini, sekali saja..batinku merapal mantra. Aku lelah, teramat lelah. Ketegangan ini membuatku lemas.

Matahari terlalu cepat mengambil alih pencahayaan di bumi. Saatnya melanjutkan hidup, aku sudah berdamai dengan masa laluku, bukan…lebih tepatnya berdamai dengan ribuan byte memori. Bukan disimpan di kotak Pandora, tapi di sisi hati bagian move on tempatnya. Memori tidak bisa dihapus, hidup bersama memori itu pasti. Tinggal bagaimana aku menyetelnya. Kotamu ini cantik, tempat rindu pernah saling  bertemu, kata orang tempat paling romantis dan magis. Memandang gerbang stasiun kotamu dengan tersenyum, aku pasti akan kembali kesini. Bukan dengan memori lama, tapi aku akan menciptakan memori baru yang akan memenuhi kuote byte otakku. Aku pulang tanpa dendam, aku salutkan kemenanganku mengalahkan diriku. Ketakutan itu untuk dihadapi, bukan dihindari. Menggenggam ketakutan di tangan sebelah kiri dan keberanian di sebelah kanan kemudian berjalan beriringan. Detik makin mendekat di penghujung kepulanganku, kota tempat kita pertama bertemu. Keberanian menuntun untuk hidup dalam kenyataan bukan kenangan. Jadi, sudah selesai semuanya tidak perlu membuktikan apa-apa.

“Maaf…” ucapmu sambil terengah-engah. Aku terpaku menatapmu, kita membeku beberapa detik. Aku hanya bisa tersenyum dan menganggukan kepala.

Aku pulang.

(Based on some memories, the end)

***

2 thoughts on “Belum Berjudul…(ending)

  1. kisahnya menyentuh sekali..sepertinya aku pernah tahu mengenai ‘dia’ yang dimaksud. apakah benar ini orang yg sama?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s