Galaunya Perempuan

Perempuan juga sama manusianya dengan laki-laki. Bukan berbicara tentang siapa yang lebih unggul, namun ketika kita berbicara tentang manusia, keduanya memiliki tempat yang setara namun berbeda secara fisik, fungsi bagian tubuh, dan hormonal. Perempuan memiliki caranya sendiri untuk berpikir dan menyelesaikan masalah. Ketika perempuan menikah, memiliki keluarga (suami dan anak-anak), dan sekaligus memiliki pekerjaan maka perhatiannya akan terbagi. Tapi saya tetap percaya, perempuan hebat adalah mereka yang mampu memberikan yang terbaik dari dirinya.

Bebas yang Terbatas
Kebebasan perempuan yang kebablasan, ungkapan seperti itu memiliki batasan yang absurd karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda tentang batasan kebebasan. Bagi saya, kebebasan itu ketika kita tidak melanggar norma, tidak melukai dan merugikan orang lain, dan terutama tidak menyakiti diri sendiri. Perempuan harus mulai tahu apa yang sebenarnya dia mau, mulai belajar menutup mulut untuk bergosip dan berbicara yang tidak perlu, belajar menyaring perkataan orang yang tidak semuanya harus didengarkan.

Perempuan vs Perempuan
Perempuan bebas menentukan mau jadi apa dirinya. Menjadi Ibu rumah tangga meskipun memiliki gelar magister, menjadi wanita karir sekaligus istri dan ibu, memilih untuk hidup selibat (tidak menikah) dengan alasan apapun, itu adalah hak perempuan untuk menentukan tujuan hidupnya.
Perempuan yang sempurna, seperti apa?
Menikah, punya anak, tidak bercerai, hidup berkecukupan, berpendidikan tinggi? Seberapa sih ukuran perempuan yang sempurna? Disadari atau tidak, perempuan sendirilah yang sering mengukur perempuan lainnya. Perempuan harus berhenti menghakimi perempuan. Masing-masing mempunyai pilihan bagaimana untuk hidup bahagia, tidak bisa diukur secara kuantitatif.

Dilema Pilihan Hidup
Ketika perempuan dihadapkan pada pilihan cita dan cinta, mana yang harus didahulukan, atau mungkin saya bisa katakan mana yang akan dipilih? Cinta pasti membawa yang baik. Cita menggenapkan cinta. Perempuan, berdirilah dengan kedua kakimu tapi bukan berarti berhak untuk angkuh. Berdiri di kedua kaki, untuk membawa cinta pada orang terdekatmu, membantu mereka sekuat hati dan tenaga.

Banyak cara untuk bahagia dan kamu masih bisa menjadi dirimu, meskipun hidupmu seolah bukan milikmu lagi. Bahagialah, karena itu hakmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s