Untukmu, yang pernah ada…

Untukmu, yang pernah ada…

Bahkan sampai sekarang, meski hanya dalam ingatan yang kadang membuat tenggorokanku tercekat

 

Hai, apa kabar?

Ketika jemariku menuliskan ini, sepucuk surat untukmu, kita masing-masing sudah memilih jalan yang kita yakini akan membahagiakan ego kita.

Masih ingat, setiap pulang sekolah seperti biasa kita naik angkot karena sekolah kita bersebelahan dengan terminal dan aku selalu tertidur dibahumu. Kamu bilang aku angkot-able, hembusan angin yang masuk dari jendela angkot selalu meninabobokkan aku. Sekian tahun, setiap hari ketika berseragam putih merah di tahun 90an lalu, kamu selalu menjadi teman perjalanan pulang sekolah dan teman bermain ketika orangtuaku sibuk bekerja.

Masih ingat, ketika aku bermain dakon dan kamu bermain kelereng, saat itu aku tidak sengaja melukai kepala anak laki-laki dengan batu sampai berdarah karena dia usil keterlaluan. Darah segar langsung mengalir dari pelipisnya, dengan ketakutan aku bersembunyi dibelakangmu dan kamu membelaku. Tapi kamu juga menegurku setelah anak lelaki itu pergi, katamu, “kalau punya refleks jangan keterlaluan dan jangan sok jagoan”. Aku makin menangis keras, kamu cuma menepuk lembut kepalaku.

Waktu kita berseragam putih merah berlalu cepat berganti seragam putih biru. Peralihan ke masa remaja dan pubertas yang membuatku kacau, tapi kamu selalu berada disana ketika aku mulai mengenal tangis tanpa sebab. Kamu, yang selalu cerdas menjawab semua pertanyaanku, kali ini terlihat bodoh ketika aku bertanya, kenapa aku bisa menangis tanpa sebab yang jelas.

Tangisku menjadi beralasan, ketika ditengah perjalanan waktu seragam putih abu kita, kamu memutuskan untuk pergi, menjauh dariku. Bukan karena ada kepala berambut hitam ikal panjang lain yang bersandar dibahumu, tapi karena keinginanmu untuk mencari Cinta yang lebih dari cinta.

“Aku ingin belajar mencintai Cinta yang seolah tidak terjangkau”, jawabmu saat itu. Kenapa? Tanyaku lagi. Kamu hanya tersenyum dan berkata, “kita masih bisa berkirim surat, sesekali bisa saling berkunjung”. Kita melewati sore terakhir dirumahmu. Pelajaran matematika yang kamu jelaskan, hanya sekedar lewat lubang telingaku.

Memang betul katamu, waktu membiasakanku tanpa kehadiranmu. Dalam beberapa tahun, aku hanya bisa menjangkaumu melalui surat yang berbalas.

Masih ingatkah kamu suatu waktu saat bisa berlibur, dan mengajakku melihat indahnya api biru Gunung Ijen. Kamu tahu kesukaan baruku, kebebasan dan cinta yang aku temukan ketika melihat gunung dan pantai. Aku mencoba mencintai Cinta yang katamu seolah tidak terjangkau dengan caraku. Saat itu, aku sudah melepas kawat gigi yang membuatku tampak tirus. Lebih cantik dengan pipi yang sedikit serupa bakpao, katamu. Kamu juga, terlihat lebih menawan dengan bahu yang dulu milikku.

Dinginnya Ijen waktu itu membuatku gelisah, lalu tiba-tiba kamu menarikku ke dadamu yang nyaman dan memelukku. “Pelukmu ini, apakah bisa menjadi milikku?” bisikku gemetar. Aku takut, Cintamu menjadi cemburu, karena dia pasti tahu aku berusaha mencuri milikNya. Kamu merapatkan lenganmu dan berbisik, “subuh ini pelukku menjadi milikmu”. Kamu tahu, waktu itu air mataku menetes. Aku rindu bahu yang dulu menjadi sandaranku, dan akan merindukan tangan yang memelukku seerat ini.

Kita bertumbuh menjadi pribadi yang berbeda dengan jiwa yang masih sama. Kamu menjadi penasihat yang baik ketika aku bercerita tentang laki-laki yang berusaha mendekatiku, tentang pekerjaanku, dan tentang hidupku yang masih kucari arahnya. Ketika aku bilang ingin mencari yang sepertimu, kamu menjewer kecil telingaku dan berucap, “kalau mencari yang seperti aku, selamanya kamu tidak akan kawin”. Iya, betul juga katamu itu, karena semua yang sepertimu pasti akan memilih Cintanya. Aku menikmati suaramu, bahumu, pelukmu. Kamu masih menatapku dengan mata itu yang membuat egoku ingin memilikimu. Terimakasih sudah menggenggam tanganku sepanjang perjalanan, untuk meyakinkan aku bahwa kamu akan selalu ada.

Aku berteguh, ini adalah surat terakhirku. Surat ini pasti sudah berada ditanganmu sebelum kamu mengucapkan janji abadi. Nanti aku akan datang, untuk menyaksikanmu berjubah putih mengikat janji dengan Cintamu. Aku bersama cintaku. Setelah ini, aku hanya bisa merengkuhmu dalam harap semoga janjimu didepan altar akan kekal.

 

*cerpen fiksi pertama yang ter-upload. Syulit!*

 

 

 

2 thoughts on “Untukmu, yang pernah ada…

  1. Nice story!
    Ini tadi ceritamu di Gunung Ijen ya.. Kalo kisahku dulu di Kebun Wortel.. Wkwkwkwkwkwk..😀😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s