Memahami hidupmu sendiri..

(Tulisan ini mungkin mengandung unsur ke-lebay-an)

Merenungkan berjalannya hari hingga bulan ke tujuh dalam tahun ini. Merefleksikan lagi apa yang terjadi di tahun lalu pada bulan-bulan awal hingga lewat pertengahan tahun. Media sosial berguna juga untuk saya bisa lebih berefleksi. Membuka-buka postingan status lama tahun lalu yang penuh dengan keluhan-keluhan patah hati, tugas di akhir perkuliahan, tesis, dan kesibukan-kesibukan lain yang cukup memberikan emosi berwarna.
Di awal tahun lalu mengalami rasa patah yang saya sadari menyebabkan ketidakstabilan pada tubuh. Seumur hidup, baru di usia 27 tahun saya masuk UGD. Itu pun karena sakit menstruasi yang membuat badan lunglai, baju basah kuyup karena keringat, muka sudah pucat, kaki yang tidak kuat menjejak tanah, bahkan untuk memanggil Mama saja kerongkongan tercekat. Hah, benar-benar seperti mau mati rasanya. Mama sampai heran melihat anaknya yang tahan sakit bisa menggeliat kesakitan seperti itu. Satu dosis suntikan tidak mempan dan harus ditambah obat minum. Alergi terhadap seafood, kepiting, juga muncul. Padahal, saya biasa menghajar habis seporsi kepiting tanpa efek samping. Alergi ini berlanjut sampai sekarang, too bad. Semuanya terjadi persis di bulan pertama tahun 2014, ketika rasa kehilangan benar-benar menguasai otak dan hati. Entah kenapa, sebuah kehilangan bisa begitu membuat lemah seseorang. Bisa jadi saya kena gejala depresi, serem ya? Karena kesehatan adalah keseluruhan dari fisik, mental, dan kehidupan sosial bukan hanya karena penyakit. Iya, saya orang yang perasa, sensitive, over thinking. Membayangkan hari-hari yang akan saya lalui pada 2014 lalu tanpa dukungan seseorang, seolah rasa takut dengan sekejap mengambil daya dari tubuh. Sekolah pascasarjana harus saya selesaikan, membayangkan berjalan sendiri, setelah ditemani berjalan diawal itu menakutkan. Seperti berada di tempat asing, kemudian ditinggalkan tanpa diberi petunjuk arah. Saya yang terbiasa berjalan sendiri, menjadi adiktif dengan kehadirannya. Kecanduan membuat sakau, hahaha! Kalau dibayangkan, bisa senyum-senyum sendiri. Bodoh dan lemahnya saya waktu itu. Terlalu sayang, terlalu bodoh, atau terlalu naïf.
Toh, saya harus bangkit, dan mulai berjalan lagi. Banyak dateline pekerjaan, kuliah, dan aktivitas di gereja yang mesti saya selesaikan. Mungkin itu sebabnya, banyak teman bilang saya nggak seperti orang patah hati, karena masih kelihatan sibuk, hehe! Tapi, sahabat-sahabat saya mengerti kalau sebenarnya saya rapuh. Well, life must go on. Yang bisa menyembuhkan hati kita bukan orang lain, tapi diri kita sendiri. Menghadapi ketakutan, bersikap positif, menghindari asumsi-asumsi yang masih doyan banget jalan-jalan di otak, dan mengontrol diri. Tuhanku, orangtua, dan sahabat menopang saya dengan sempurna. Puji Tuhan, semua terselesaikan dengan baik. Tantangan terbesar saat itu adalah menghadapi diri sendiri. Mau terpuruk lalu merugikan diri sendiri dan orang lain, atau mau tetap melangkah karena masih banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan. Membuat diri sendiri terpuruk itu egois karena masih banyak yang memperhatikan kita. Terpuruk tidak menjadi pilihan dalam hidup. Lika liku tesis yang jalannya nggak santai, membuat semakin merana, hehe! Keluhan khas mahasiswa, tapi ya memang wajib selesai on time! Promosi karir berbarengan dengan dateline tesis, tambah membuat otak mules berganda. Patah hati, tesis, dan pekerjaan..akhirnya memang harus dihadapi. Cuma orang mati yang nggak punya masalah, Cuma orang mati yang nggak perlu mikir. Menjelang wisuda pascasarjana dan akhir tahun, terbersit sedikit rasa sedih karena merasa kurang komplit. Tapi ya sudahlah, tetap bisa merasakan bahagia 
Puji Tuhan, masih saya selamat melewati 2014.
Tahun 2015 ini, dari awal hingga bulan ketujuh sudah lebih banyak tawa daripada tahun sebelumnya. Meskipun pekerjaan semakin heboh, dan kegalauan akan pekerjaan masih menggelitik, tapi masih bisa lima bulan berturut-turut rekreasi bersama keluarga dan para sahabat. Mengunjungi banyak pantai dan gunung seolah membebaskan hati yang tersekat. Alam itu menyembuhkan dan menguatkan. Alam mengganti air mata dengan tawa. How Great Thou Art!
(Semoga yang disana sama bahagianya)

Surabaya, 23 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s