Public Relations Bukan Perkara Gender

Beberapa hari lalu, saya kedatangan tamu 3 mahasiswi dari tempat saya menempuh jenjang S1. Mereka menanyakan seputar feminisme dalam dunia Public Relations (PR). Seketika saya mengernyitkan dahi, bukan tidak mengerti maksud dan pertanyaan mereka. Tapi apa iya sih hal tersebut menjadi suatu permasalahan di dunia ke-PR-an?

Berawal dari tugas salah satu matakuliah Public Relations, mereka ditugaskan untuk mencari PR perempuan yang purely PR. Bukan merangkap Marketing Communications sebuah institusi. Hmm, dosen-dosen ini membuat sulit mahasiswa. Mereka pasti tahu-lah jumlah PR di Surabaya bisa di hitung pakai jari (tangan dan kaki). Tugas ini harus dilaksanakan dengan tidak boleh ada nara sumber yang sama dan berada pada satu institusi yang sama. Tugas-tugas tersebut masih sama dengan tugas yang saya terima waktu S1 dulu. Stagnan. Tidak ada kemajuan. Toh, Public Relations dalam ilmu kekinian sudah menjadi bagian dari Integrated Marketing Communications. Dan saya masih bertanya-tanya, kenapa harus mencari yang perempuan??

Baiklah, kembali ke feminisme di dunia PR. Haloo, apa kabar kompetensi dan kapabilitas seseorang kalau sebuah profesi harus disangkutpautkan dengan gender??

Saya bukan personal yang suka menghubungkan antara profesi dengan gender. Misal: kenapa banyak perawat itu perempuan, hanya segelintir laki-laki yang ingin menjadi perawat. Padahal ada yang bilang bahwa nurse is the heart of medical care. Kenapa laki-laki yang berprofesi sebagai PR banyak yang kemayu? Oh, ada ya? Saya malah melihat mereka itu sosok yang berkarisma. Yang kemayu, Anda lihat dimana? Betulkah dia seorang PR?

Mereka bertanya, kenapa Ibu ingin menjadi PR? Saya singkat menjawab accidentally in love. Saya baru terpikir ingin terjun di dunia ini ketika menjelang penulisan skripsi. Saya ingin sekali berkecimpung di dunia PR atau CSR.  Saya merasa bahagia kalau bisa membantu orang lain dan saya suka menulis, itu saja bekal saya. Dan saya rasa, saya bisa membuat publik melihat institusi tempat saya berkarya melalui tulisan dan publisitas yang menjadi tugas utama saya. Kalau orang-orang marketing harus membayar puluhan bahkan ratusan juta untuk promosi di media massa, public relations dengan nol rupiah bisa membuat banyak orang memperhatikan institusi mereka. Jawaban yang dangkal kan? Yaah..paling tidak itu perbedaannya antara marketing dengan PR. Marketing spend money also get money. PR spend creativity and get image. Marketers do hard promotion, PR do soft promotion.

Lalu, bagaimana menurut Ibu tentang anggapan orang bahwa profesi PR itu cocoknya untuk perempuan? Oh Tuhan, sekali lagi saya mengernyitkan dahi. Mereka yang berbicara seperti itu, sama sekali tidak mengenal dunia PR. Orang-orang yang berkecimpung didunia PR bukan sekedar pemanis institusi (meskipun outlook PR selalu manis :)). Bekerja di bidang ini dituntut memiliki banyak skill, hard skill and soft skill. Meskipun saya bukan pengajar, saya mengingatkan mereka akan teori-teori seputar PR, peran dan fungsinya, cakupan kerja, dan kompetensi apa saja yang dibutuhkan. Bukan perkara mudah untuk menjadi seorang PR. Kemampuan analisis, public speaking, negosiasi, menulis, fotografi, bahkan desain seringkali tercantum pada kriteria di job vacany institusi yang mencari sosok PR, kemampuan diri fleksibel dan dinamis, kemampuan berbahasa. See, tuntutannya banyak. Kemampuan tersebut tidak hanya dimiliki perempuan kan. Head of Public Relations atau Corporate Affairs atau Communications Divison atau apapun namanya dari beberapa BUMN dan perusahaan asing adalah laki-laki. Saya jadi bertanya, kenapa sih ada gerakan feminism? Kalau kita berpikir bahwa kita adalah manusia, bukan laki-laki atau perempuan, maka semuanya akan sama (saya dengar pendapat ini di sebuah radio, dan saya sangat setuju). Yang berbeda hanya kemampuan fisik dan fungsi kelamin.

Yang terakhir, kenapa Ibu senang dengan dunia PR? Because this is my passion. Menikmati yang kamu suka itu adalah the real happines meskipun harus siap sedia 24 jam untuk melayani media. Banyak hal menarik yang saya lakukan. Bisa berinteraksi dengan manusia dari segala lapisan, profesi, dan umur. Menulis, pastinya. Mengkonsep event, menganalisa kompetitor just based on the newspaper. Itu sedikit dari banyak hal menyenangkan yang saya lakukan. Kalau di tanya bagaimana menjadi seorang PR yang baik, hm, just do the best to the things you must do.

Dan yang selalu saya tanyakan kalau ada mahasiswa dari Fakultas Ilmu Komunikasi menemui saya: Kenapa mau jadi PR? Pertanyaan yang sama seperti yang mereka ajukan kepada saya.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s