perempuan itu…

Perempuan bisa menyembuhkan hatinya sendiri. Terserah mau dibilang sok kuat atau sok tegar atau apapun itu, saya percaya bahwa perempuan diciptakan sebagai penyembuh. Perempuan bisa menyembuhkan hatinya sendiri maupun orang lain. Bagaimana caranya? Mungkin ini jawabannya: Untuk dirinya, perempuan memiliki airmata yang berfungsi membasuh luka semacam khasiat obat merah. Pedih diawal, tapi ampuh. Proses pengeringan luka memang membutuhkan waktu yang cukup lama, tapi pasti luka itu akan mengering dan tidak berbekas. Perempuan juga seharusnya lebih telaten untuk merawat luka hingga sembuh. Menjaga agar tidak terkena gesekan atau hal-hal yang membuat luka yang mulai mengering itu kembali berdarah bahkan sampai bernanah. Bagi orang lain, terlebih bagi yang dicintainya, perempuan adalah dokter spesialis yang langsung menyentuh luka yang menganga kemudian menyembuhkan luka tanpa ongkos rawat inap dan biaya pengobatan.

Ambil satu contoh sosok perempuan, Inggit Garnasih. Siapa dia? Istri kedua Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama. Inggit Garnasih dipersunting Soekarno setelah dia mengembalikan Oentari kepada ayahnya, yaitu HOS Cokroaminoto. Perbedaan umur yang hampir selusin tidak menjadi penghalang bagi Pria Flamboyan ini ketika melamar Garnasih (saat itu Garnasih berusia kisaran 33 tahun, dan Soekarno 20 tahun). Perjuangan Inggit Garnasih sebagai seorang perempuan sangatlah luar biasa. Pendamping Soekarno muda yang memiliki gejolak dan cita-cita untuk memerdekakan Indonesia ini berperan sebagai istri, ibu, dan sahabat.

Bayangkan, ketika Soekarno bergelut dalam dunia politiknya, Garnasih-lah yang menjadi tulang punggung keluarga. Garnasih berjualan jamu dan bedak hasil racikannya sendiri. Ketika Soekarno beberapa kali dipenjara dan dibuang ke Bengkulu, Garnasih tetap setia mendampingi dan mendukung Soekarno bahkan ketika kobaran api semangat itu hampir padam. Perempuan yang luar biasa dalam mempertahankan hidup suami dan hidupnya sendiri, perempuan yang luar biasa dalam mencintai seorang pria istimewa yang meninggalkannya, perempuan yang luar biasa memulihkan hatinya dari sayatan cinta hingga mati. Inggit Garnasih, memilih untuk tetap setia pada hati dan kesendiriannya pun ketika Soekarno akhirnya menyunting Fatmawati. Garnasih memilih berpisah daripada dimadu. Dia mempertahankan haknya untuk tidak berbagi cinta, meskipun itu membuatnya sendirian.

Kekuatan perempuan ada pada keteguhan hatinya. Hati yang kadang tidak sejalan dengan logika.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s