yang pasti terjadi ya cuma perubahan..

Percakapan kami mulai berubah arah and my March also full of surprises. Surprise pertama, Elieza sedang hamidun, dia selalu bilang hamidun untuk mengganti kata ‘hamil’. Kandungannya masuk usia 9 minggu. Surprise kedua, officially Ayu dan Diana akan menikah berurutan bulan (Oktober dan November 2013). Surprise ketiga, tante saya yang menikah sama bulan dengan Elieza, hamidun juga!! Akhirnyaa, jadi ibu-ibu juga mereka, hahaha! Pembicaraan seputar bayi, penikahan, keluarga. Pembicaraan yang cukup berat, karena terlalu sering kami ngobrol tentang pointless things. Chardo bilang, perempuan GSI mulai berubah, tapi dia tetap seperti Chardo yang dulu. FREE, like a bird. Yes, boys will always be boys. I’m happy for them. Bahagia seperti apa? Bahagia yang cuma bisa diungkapkan melalui doa dan setetes air mata. Bahagia melihat sahabat – sahabat bahagia itu nikmatnya double.

Berasa baru kemarin kami ngerjain tugas di Elz’ Pond (basecamp), ketawa sampe gulung – gulung, nongkrong di café sambil ketawa ngakak dan dilirik banyak orang dengan pandangan ‘nggak tau diri banget ini anak-anak kecil’. Baru kemarin rasanya menemani Elieza nangis sesenggukan di ruang tamu karena virtual boyfriend – nya meninggal karena kecelakaan, melihat perjuangan Diana membuat badan jadi lebih sehat dengan menurunkan bobotnya sebanyak 15 kg, gave support untuk Ayu yang ikut jadi ‘korban’ orang – orang kantor yang isengnya keterlaluan, jadi obat kuatnya Chardo waktu Ibunda nya dipanggil menghadap Bapa. Baru beberapa menit yang lalu rasanya mendengar cerita-cerita mereka mengenai first kiss and their next next next kissing..hahahahaa! Those all are incredible life. Perjalanan ke Bali, April tahun lalu sepertinya menjadi penghujung waktu kami untuk berpesta pora dengan kehidupan sebagai GSI yang selalu ada dalam bentuk fisik.

Kami bertumbuh bersama menjadi sosok persona yang memiliki kepribadian unik masing – masing. Kenapa kami masih bisa terkoneksi selama ini? Itu karena kami berkompromi. Mungkin secara tidak sadar kami sudah melakukan kompromi itu. Apa yang baik dan membuat sahabat kami bahagia, kami akan jalani. Ada beberapa cerita tentang kompromi yang tidak berhasil. Mungkin juga secara tidak sadar, kami pernah menyakiti satu sama lain tanpa bermaksud menyakiti. Disitulah kami gagal berkomunikasi (padahal jebolan mahasiswa Ilmu Komunikasi semua nih, ironis ya..heheh!). Tapi kami tidak pernah bisa diam dan marah terlalu lama. Tanpa meminta maaf, kami sudah saling memaafkan. Dengan meminta maaf, koneksi kami semakin erat. Bukan persahabatan yang sempurna, tapi ini lebih tentang persahabatan yang mengajari kami untuk hidup berelasi, persahabatan yang saling melengkapi.

5 karakter yang berbeda, dimulai dari saya, Ajeng. Paling mungil, paling hitam, paling serius, paling nggak bisa guyon, paling cerewet, paling sinis, paling nggak bisa lihat yang nggak beres, paling keras kepala tapi juga paling susah bilang enggak, lebih suka mendengarkan yang lain bicara, dan Cuma ikut ketawa-ketawa kalau semua lagi konyol, paling cengeng, paling nggak bisa dandan tapi pinter masak. Lanjut, Ayu. Paling bisa nari, paling suka sama binatang (kucing dan anjing), paling nggak bisa masak, paling sering bilang terserah, paling nurut apa mau GSI yang lain, Paling pinter dandan, paling iseng, paling jorok (apalagi kalau abis makan terus sendawanya keras banget), paling lama pacaran sama 1 pria (5 tahun menikah di Oktober 2013), paling bisa bikin pose aneh kedua setelah Chardo, paling sexy, paling medok, paling lama kalau lagi milih sesuatu (mulai dari sepatu, baju, sampai milih menu makanan).  Lalu, Chardo.paling bisa nari, tapi kedua setelah Ayu (sorry, Do!), lelaki paling aneh, suaranya paling bagus kedua setelah Elieza, paling pinter bahasa Inggris, paling sok tau, paling norak, paling bisa bikin pose aneh, paling nggak tau malu, paling rame, paling bunglon, paling ngrepoti, intinya, Chardo ini makhluk paling aneh. TITIK. Kemudian, Diana. Miss rempong satu ini, paling bisa dandan kedua setelah Ayu, paling banyak pertimbangan jadinya ribet sendiri, paling keras suaranya, paling lama kedua kalau milih sesuatu setelah Ayu, paling doyan makan, paling bongsor, paling lama kalau dandan, paling tegar, paling pinter cari duit (hahahaa!!). Terakhir, Elieza. Paling bagus kalau nyanyi, bakat nari tapi bodi nggak mendukung (hahahaha, sorry to say!), paling bisa jadi penengah, paling keras kalau ketawa dan teriak, paling gampang di’bully’, paling pintar, paling nggak bisa masak kedua setelah Ayu (sejak menikah, udah pinter masak, katanya. Saya mah nggak percaya sebelum ada bukti otentik, hahahhaa!), paling duluan nikah dan hamidun, paling sering juga bilang terserah, paling jagoan, paling toleran, paling mau direpotin, paling supel, paling banyak punya mantan virtual (how come, sih?).

Bukan bermaksud untuk membongkar kejelekan sahabat sendiri, tapi itulah kami. Kami yang mempunyai banyak cacat cela yang bisa dikompromikan. Kami menertawakan cacat cela kami, we’re trying to be ourselves. Persona – persona yang bisa berubah seiring waktu yang akan membuat kami tua dan semoga juga mendewasakan. Jiwa yang memiliki mimpi, yang berusaha mencapai mimpi dan yang terpaksa mengubur mimpi demi sebuah mimpi yang lain. Waktu memaksa kami untuk berubah. Semuanya. Perubahan total. Berkumpul secara fisik sudah sangat jarang kami lakukan. Perubahan status, perubahan domisili, perubahan aktiitas secara sporadic, perubahan PRIORITAS!! Kami, terutama saya, sering menginginkan ‘pintu kemana saja’. Kalau pintu tertutup, masih ada jendela yang terbuka. Gadget!! Kami berusaha memanfaatkan kecanggihan gadget untuk melepas rindu.

Kami mencoba tidak memenjara diri dalam jarak. Secara fisik mungkin kami akan jarang bertemu. Elieza berdomisili di Jakarta, setelah menikah Ayu akan pindah kota ke Malang. Yang masih akan menetap di Surabaya hanya saya, Diana, dan Chardo dengan kesibukan masing-masing. Masih belajar memahami bahwa kehadiran sahabat nggak Cuma bisa dirasakan ketika mereka muncul didepan mata. Support dan suara sekarang menjadi andalan kami untuk bisa mempertahankan persahabatan ini. Semoga persahabatan ini kekal. Amin!!

still at office

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s