serunya marah dalam cinta

Beberapa hari lalu, saya kebingungan untuk membuat puisi bertema cinta. Ceritanya, Elieza, baru akan membuat undangan pernikahan bergoreskan tinta yang membentuk puisi. Dibuat pusinglah saya. Seminggu berusaha untuk memellowkan diri demi sebuah inspirasi, tapi gagal. Maaf ya, teman. Bukannya nggak mau, tapi nggak ada inspirasi sederhana tentang cinta, jatuh cinta, mencintai, dicintai, sampai yang berhujung di sebuah janji suci. Mencoba bertanya pada beberapa teman tentang rasanya jatuh cinta dan menginterogasimu pun nggak juga berhasil. Payah kan?

Cinta, terdengar sederhana namun rumit binti njlimet. Tiga hari ini, saya melihat dan mendengar tiga pasangan beradu argumen. Seru lho.. ada yang via telepon karena long distance relationship, ada yang berantem di sepeda motor sampai si perempuan mengancam turun dan melanjutkan perjalanan sendiri (berantemnya didepan mataku pula), dan ada yang karena idealismenya sampai harus sedikit bersitegang dengan pasangan.

Saya cerita dulu yang pertama. It happened on last Saturday (aku ambil contohmu ya,hun2.. J). Teman baikku sendiri. Kalau yang ini, adu argumennya tepat disebelah kuping pada siang hari yang super panas, ketika saya sedang menyetir mobil. Percekcokan sepasang kekasih via telepon karena bentang jarak, karena akan mempersiapkan sesuatu yang sangat penting, karena salah satu pihak tidak bisa memberikan keputusan sendiri dan perlu bantuan orang tua, karena sesuatu yang dipersiapkan itu sudah mendekati hari H dan mendadak, dan karena TELEPON. Nada suara dan sentilan kata mempengaruhi mood dan persepsi seseorang. Mau tau apa yang ada dipikiran saya waktu itu? None! Saya hanya melihat lurus ke depan, ke arah jalan tol yang lumayan padat sambil bernafas. Status sahabat saya ini, baru akan mengakhiri masa lajangnya setelah pacaran dengan sistem LDR 5 tahun lebih (kalau nggak salah).

Cerita yang kedua, saya dapat cerita ini hari Minggu malam, dengan kejadian di hari Sabtu malam. Idealisme si lelaki-lah yang membuat si perempuan marah. Note, pribadi keduanya memang keras. Ceritanya, si lelaki memutuskan untuk membatalkan acara pada tanggal sekian di bulan Oktober ini karena teman-temannya butuh bantuan. Alasan si lelaki: acara disana cuma have fun, acara disini lebih butuh orang. Setengah harian keduanya nggak saling bicara, karena mentok dengan pendiriannya masing-masing. Minggu siang, si perempuan mulai meluluhkan hatinya dengan menerima keputusan si lelaki. Dia bilang: ya sudah, masalah kemarin biar kemarin saja. Saya cukup mengenal si lelaki, karena kami sudah berteman sekian tahun. Dilema antara komitmen dengan komunitas dan komitmen dengan kekasih (hancur daahh..gimana nggak binggung coba?). Relasi resmi (pacaran,red.) pasangan ini terjalin belum genap setahun.

Cerita yang ketiga, baru terjadi tadi pagi ketika saya keluar dari toko roti selesai beli jajan pasar untuk Adit, si bungsu dikeluargaku. Tepat ketika keluar pagar, ada sepasang mahkluk asing (asing bagi saya) sedang saling beradu mulut diatas sepeda motor yang melipir akan parkir di toko kue itu (eh, ga bisa disebut beradu mulut, karena yang ngomel cuma lakinya aja). Samar-samar ada beberapa kata yang mampir ketelingaku karena tertiup angin: jangan, pagi-pagi, mood, berantakan. Mataku menangkap raut wajah si perempuan dengan alis mengkerut, mulut terkunci rapat. Lalu si perempuan dengan sigap turun dan berjalan menjauh dari sepeda motor. Sambil memperhatikan dari dalam mobilku, si lelaki berteriak memanggil perempuannya. Respon si perempuan? Dia berjalan kembali ke arah lelakinya sambil menekan ego (kelihatan banget dari raut muka si perempuan).

Muncullah pertanyaan, serunya cinta ya? Marah jadi bumbu yang seolah menyedapkan. Marah seperti cabai yang ada beberapa orang nggak lekoh kalau makan tanpa cabai. Kalau marah, mulut memuntahkan kata semacam peluru yang ditembakkan snipper amatir. Untuk korban tembak akan merasakan nyeri yang luar biasa. Lalu, tiba-tiba muncullah kata maaf. Kata maaf semacam aspirin yang meredakan nyeri. Setelah kata maaf, terima kasih nongol setelah maaf diterima. Ketika maaf diterima, lalu merasa berhak untuk melukai lagi dengan asumsi akan dimaafkan lagi. Semacam rantai derita ya..? Eh, ini hanya pikiran sinis saya saja. Anda boleh tidak setuju dan mengatakan bahwa saya adalah orang yang takut jatuh cinta. Iya, saya takut ada cinta yang datang hanya untuk saling menyakiti. Cinta memang indah, tapi tidak seindah dongeng-dongeng impor yang selalu diawali dengan kata-kata “Once upon a time…” dan diakhiri dengan “..and they live happilly ever after” dan minim konflik kecuali dengan penyihir.

Tiga cerita diatas kasusnya berbeda. Detail sengaja tidak saya jabarkan, hanya garis besarnya  yang saya tuangkan. Konflik dan marah itu manusia banget. Tapi, dibutuhkan rem yang pakem untuk mengontrol marah supaya nggak jadi amarah. Amarah itu membunuh. Alatnya? Mulut dan kata-kata. Kalau sudah menyentuh fisik, amarah menjadi tidak bisa ditoleransi. Beradu argumen itu menyenangkan, akan menjadi menyebalkan ketika kita tidak saling mendengarkan (didengarkan bukan berarti disetujui). Jadi, kalau ada yang bilang “dalam marah ada cinta”, tergantung. Kadar marahnya sudah sampai pada level amarah murka atau marah pakai hati. Marah demi kebaikan? Kenapa harus diutarakan dengan nada marah, jika bisa disampaikan dengan nada netral?

Ada kutipan: 1. Sometimes, we need to be realistic with love. 2. Love isn’t blind, but totally absurd. 3. Takes your brain with you if you give your heart to someone else.

Selamat mencintai yang hati dan pikiranmu cinta.

*buat yang merasa ceritanya dipakai, no name kok, jadi gapapa ya? Hehehh!*

8/10/2012

One thought on “serunya marah dalam cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s