Efek Menunggu, Jadi Meracau

Menunggu itu seni. Dalam hidup kita diharuskan untuk menunggu, antri. Menunggu lulus sekolah, menunggu sukses, menunggu warisan, menunggu jam pulang kantor, menunggu pacar melamar, menunggu calon pacar mutusin pacarnya, menunggu BBM turun, menunggu kaya, menunggu jodoh, menunggu mati. Menunggu ini dilakukan selama kita berproses, bukan cuma duduk diam terus duit dateng. Kalau mau begitu yang duduk aja dibawah kolong jembatan sambil bawa kaleng bekas susu dan berlusuh ria. Menunggu ini proses yang luar biasaaaaa..! Dia bisa bikin orang depresi, frustasi, bunuh diri (duh, amit-amit!!). Menunggu ini paling anti sama yang instan. Masak mie instan aja juga harus nunggu, apalagi kalau LPGnya habis (nasib dah!).

Ini yang sedang saya alami sekarang. Saya yang sangat tidak sabaran dalam hal tunggu menunggu ini, seolah terus dipaksa menunggu. Kadang pemaksaan itu berhasil membuat saya belajar. Dalam hal ini saya dipaksa belajar untuk menunggu. Menunggu datangnya tanggal 11 Juli 2012 sejak seminggu yang lalu, huuuaahh! Dua pekan serasa dua dasawarsa. Tanggal keramat sepertinya. Penentuan masa depan, penentuan perubahan haluan hidup, penentuan proses terwujudnya sebuah mimpi (jauhkan pikiran Anda dari asumsi bahwa saya akan dilamar atau menikah pada tanggal itu!!). Otak terus berputar, berupaya meramalkan apa yang akan terjadi nanti, membuat rencana cadangan bila hasil penantian ini tidak sesuai keinginan.

Terlalu banyak berpikir saat menunggu bisa bikin capek otak dan hati. Apalagi disaat penantian ini ada tawaran menggiurkan yang membuat galau tingkat internasional. Antara menggapai impian dan mengumpulkan pundi-pundi, antara ilmu dan prestige, dua-duanya menggiurkan. Ibarat kata disuruh milih antara Gule Iga atau Rendang, pengen hajar semuanya kalau bisa (rakus nih).

Proses keduanya sudah sempat dan selesai dijalani. Proses yang cukup menegangkan, mencengangkan, membuat down, membuat diri merasa terintimidasi. Sampai tanggal 11 Juli 2012, semua tinggal menunggu hasil. Entah berhasil semua, entah gagal semua (huuuiik..?). I’ve done my part, the rest is His part. Kayaknya gampang banget ini nulisnya: the rest is His part. Padahal, saya harus sering merapel mantra kalau otak lagi meracau kacau. Seringkali berhasil menenangkan meskipun jangka waktunya pendek. Begini caranya: ambil nafas dalam-dalam, tutup mata, hembuskan nafas perlahan sambil mengucap atau dalam hati satu kata ‘berserah’ sampai nafas habis terhembus. Ulangi lagi jika belum berhasil, kalau masih belum berhasil juga, hmm..derita lu kayaknya.

Dan saya masih akan terus menunggu…

2 thoughts on “Efek Menunggu, Jadi Meracau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s