What’s to Die for?

Hidup, mati, jodoh, dan rejeki kata orang sudah diatur oleh Yang Mahakuasa. Saya setuju bahwa hidup adalah pemberian yang luar biasa. It is a gift from above, it is a trust from above. Hidup memberi kita sejuta cerita. Masih ingat memori masa batita? Sepertinya memori itu terhapus secara otomatis. Masa batita masih bisa kita rekam melalui memori manusia lain, bisa dari orang tua, orang tuanya orang tua, tante-om, pakde-bude. Mereka pasti pernah membicarakan kelucuan dan kebiasaan yang menjadi aib. Masa balita, saya yakin masih ada sisa-sisa memori ketika kita berada pada fase Taman Kanak – Kanak. Polah tingkah anak TK yang aktif, tidak cenderung ke hiperaktif macam anak TK masa kini dan tidak sekritis generasi milenium. Beralih ke usia tanggung, ketika kita memakai seragam putih-merah. Ketika masih belajar mengeja “ini Ibu Budi” (mana bapaknya? Hm, peranan Ibu memang luar biasa), ketika ditanya tentang cita-cita, sebagian besar memilih profesi Presiden dan Dokter. Adik-adik, selain kedua profesi itu masih banyak kok profesi mulia dan hebat lainnya. Jangan berebut jadi Presiden ya. Saat cinta monyet mulai hinggap dihati monyet-monyet kecil nan lucu itu (wah, saya juga monyet dong?), saat mulai mengenal pertemanan – persahabatan, saat tersadar bahwa ketika menginjak kelas 6 SD harus berjuang untuk fase hidup selanjutnya yang unpredictable.

Kita masuk ke masa usia galau tahap awal. Jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau pernah disebut juga Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), bagi saya masa ini adalah masa transisi dari ‘unknown’ become ‘seen’ person. Bagi perempuan, masa ini adalah masa puber yang paling parah, paling menyakitkan, paling aneh, paling ajaib. Hormon ekstrogen seolah berjingkat kegirangan. Begitu pula laki – laki. Aneh rasanya melihat tonjolan dileher para lelaki itu, mereka seperti menelan biji salak kemudian nyangkut di tenggorokan. Bodohnya, ketika sekitar umur 7 atau 8 tahun saya percaya, bahwa tonjolan dileher papa – om – pakde – paklik saya adalah benar karena mereka makan salak kemudian bijinya nyangkut di tenggorokan (hey, maklumlah, pelajaran biologi tentang anatomi baru saya dapatkan di SMP). Pada fase ini saya mencintai persahabatan.

Oke, lanjut ke masa penuh kisah kasih, Sekolah Menengah Atas (SMA). Saya takut berbicara cinta pada fase ini, jadi fase ini saya berbicara tentang kenakalan dan keunikan masa emas remaja. Oh, masih ingat kita dulu enggan disebut anak-anak dan merasa diri sudah bukan remaja lagi? Kita mematok umur 17 tahun untuk bisa meresmikan diri sendiri dalam kategori usia dewasa. Kalau mengingat hal itu konyol rasanya. Masih ingat berkelahi dengan teman karena masalah perempuan (atau malah masih melakukannya hingga kini, hahah!)? Masih ingat histeria khas perempuan ketika melihat lelaki bermain basket penuh peluh (bahkan masih hingga detik ini,hmm)? Masih ingat pernah bolos sekolah karena dugem semalam suntuk? Masih ingat pernah mencari-cari alasan meninggalkan pelajaran dengan alasan membuat laporan kegiatan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah)? (I did that!!). Akibatnya pernah hampir tidak naik kelas karena keseringan meninggalkan pelajaran. Saya belajar, attitude itu sangat sangat sangat penting (para guru, kalian begitu luar biasa). Bagi saya, pribadi, masa ini bombastis. Kalau saja setiap detik kejadian bisa direkam, pasti menjadi harta karun to die for.

Selesai sudah babak menjadi siswa biasa, sekarang saatnya menjadi mahanya siswa alias mahasiswa. Bangga banget kah menjadi mahasiswa? Bangga dong!! Ini adalah memori paling segar yang bisa diingat kembali. Saya tidak perlu mengingatkan ya.. Yang jelas, pada masa akhir menjadi mahasiswa, saya mempunyai tujuan kemana kaki saya akan melangkah. Sedikit terlambat memang, seharusnya sebelum duduk dibangku kuliah sudah kudu tahu masa depan seperti apa yang kita inginkan. Well, everyone get lost before they finally find their way, kan? (anggap saja pembenaran dari saya). Sampai sekarang, saya pun masih berjuang untuk menggapai tujuan hidup saya. I’m still lost but alive. With all memories behind also future to die for. What about yours?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s