Jogjakarta..the ethnic city

Jogjakarta, the ethnic city, full of wow-ness. Liburan tahun baru 2011 lalu, saya menghabiskan hari di Jogjakarta. Mencoba menyusun liburan bersama seorang teman, saya, ingin menjelajah beberapa tempat disana dengan uang seadanya untuk 4 hari 3 malam.

Berangkat dari stasiun Gubeng Surabaya tanggal 29 Desember 2011 naik KA Sancaka dengan tiket bisnis seharga Rp 95.000 (kalau bukan musim liburan cuma sekitar Rp 55.000 saja) perjalanan hanya ditempuh selama 5 jam. Tiba di DIJ, dengan disambut gerimis, kami menuju hotel seorang kawan yang kebetulan juga berlibur. Naik becak yang tempat duduknya memaksa pantat kami untuk menyusut. Angkringan menjadi sasaran kami untuk mengisi perut hampir ditengah malam. Kebetulan, angkringan ini terletak di kawasan SarKem alias Pasar Kembang alias Dolly-nya Jogja. Kawasan itu juga salah satu lokasi syuting film Indonesia “Mengejar Mas-Mas”. Ada sate usus,gorengan, kue basah, nasi kucing sebagai main course-nya. Dengan Rp 15.000, sudah bisa lumayan kenyang.

Hari kedua, kami benar-benar keliling Jogja menggunakan transjogja, becak, dan kaki. Malioboro, Museum Keraton, Museum Kereta Kencana, Batik Handpainting, Taman Sari, Candi Prambanan..dijelajahi dalam 1 hari. It was fun yet made our feet kribo. Hari ketiga menjadi quality time saya dan tambahan beberapa yang berangkat dengan motor dari Surabaya. Hanya berkumpul dirumah seorang kerabat, yang dijadikan base camp. Tepat dimalam tahun baru, kami menghabiskan tenaga untuk berjalan kaki sejauh 8 km menuju Monumen Tugu dan Malioboro. Sekedar untuk membaur dipadatnya Jogja. Manusia dimana mana. Jalan raya sejauh dan selebar itu, ditimbuni oleh ratusan ribu orang. Malam tahun baru saya yang pertama kali diluar kota Surabaya dan membaur dengan ribuan penduduk Jogja.

Hari keempat, jam 7 pagi, KA Sancaka Eksekutif menjadi kendaraan untuk kembali ke Surabaya. Akibat tidur sudah menjelang pagi, dan  badan serasa melayang karena belum sempat sarapan, bakpia yang harusnya dijadikan oleh-oleh mampir dulu ke mulut ini. Perut agak terselamatkan oleh mata yang minta dipejamkan dan pertolongan pertama bakpia. Sampai di Madiun, kereta harus berhenti sebentar, daaan..bertemulah dengan nasi pecel pincuk seharga Rp 3.500 yang dijajakan oleh pencari rupiah halal. Pertukaran rupiah dengan nasi pecel itu berlangsung di lorong pintu gerbang kereta, karena mereka di-ilegal-kan masuk ke dalam lorong eksekutif. Perut kenyang hati riang. Kembali ke rumah dengan penuh rasa terima kasih pada papa-mama yang dengan ikhlas hati (atau masih terpaksa?) membiarkan gadis kecilnya ini melalanglang bebas, Ardisa Widhoretno-teman seperjalanan, keluarga Om Didik yang rumahnya mau dibikin rusuh (plus 4 dara yang centil dan macho), pasutri Victor-Vera, pasutri Enggar-Bogie (with little unborn Patih), paskesih Gempo-Agnes (semoga segera menjadi pasutri ya), Memed, Toyib (sudah jilat-jilat kakiku, kumaafkan kamu), dan pak penjual nasi pecel di stasiun Madiun yang sudah menyelamatkan lambungku.

at Angkringan SarKem, Jogjakarta
at Candi Prambanan with Japanese Tourist

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s