meaningless become meaningful

be careful with your words

Beberapa hari ini jalanan menuju ke kantor terjangkit penyakit macet. Parahnya, jalanan ini juga adalah akses untuk menuju Bandara Internasional Juanda. Macet terjadi dari 4 sisi arah, yang pertama yaitu dari arah Raya Tropodo menuju Pabean. Kedua, dari arah Raya Juanda. Ketiga, dari arah Raya Sedati. Keempat dari Raya Juanda exit bandara. Semuanya tumplek bleg di perempatan traffic light akses ke Bandara Juanda. Yang biasanya dari Raya Tropodo hanya sekitar 10 menit menuju bandara, beberapa hari ini harus ditempuh sekitar 30 menit. Bisa – bisa, penumpang maskapai penerbangan ‘kepancal’ (ketinggalan,red.) pesawat dan stress di jalan.  Penyebab kemacetan ini adalah padatnya kendaraan, banyak gate keluar masuk perumahan (sekitar 4 gate dikanan maupun kiri jalan), hujan yang menyebabkan genangan air, kendaraan yang saling serobot dan nggak tahu aturan. Sekian traffic report yang akan saya susul dengan insiden umpat mengumpat judulnya ‘jancuk’.

As we all know, ‘jancuk’ adalah umpatan khas Surabaya, sebenarnya sudah meluas ke se- Timur hingga Barat. Kata profan satu ini biasa dipakai untuk umpatan versi terminal maupun untuk menyapa kawan lama yang jarang atau tidak pernah bertemu.  Pagi ini, saya terpaksa mengeluarkan kata indah tersebut ke bapak sopir angkot lyn H jurusan Wonokromo – Sedati. Itupun karena dia melontarkan kata tersebut lebih dulu. Akan saya gambarkan dengan model dialog ya..kira-kira begini:

Sopir: j****k!! sebelah kanan sek ombo ngono gak gelem mlaku nganan tithik!! (j****k!! jalan sebelah kanan masih lebar begitu, nggak mau jalan disebelah kanan sedikit,red.) – Padahal itu adalah jalan 2 arah, kalau saya ambil kanan, akan berhadapan dengan mobil dari arah kanan dan tambah bikin macet, He’s so stupid! Jarak mobil saya dan angkot itu tidak lebih dari lebar kaca spion. Posisi angkot disebelah kiri Mr. Black (mobil saya), mepeettt banget.

Saya: (membuka jendela mobil, dibelakang setir) bapak sing j****k!! (bapak yang j****k!) wes ngerti macet begini, nyerobot aja!! Mau jalan disebelah kanan gimana!! (jendela separuh terbuka,akan saya tutup).

Sopir: j****k!! (sambil ngedumel tidak jelas, tapi saya dengar umpatan itu)

Saya: (membuka penuh jendela, sekali lagi..) bapak yang j****k!! (sambil melihat mata sopir angkot itu sekian detik, kemudian menutup kembali jendela).

Khawatir Mr. Black saya di ‘apa-apa’ kan, saya terpaksa minggir sedikit ke kanan supaya angkot itu bisa leluasa nyerobot disebelah kiri. Masih kelihatan dia ngedumel aneh sambil melirik mobil saya. Setelah angkot itu lewat, saya senyum-senyum sendiri. Wah, seumur-umur saya nyetir mobil, baru kali ini saya mengumpat ke orang, hahah!! Mungkin si sopir angkot agak kaget juga ketika saya membuka jendela mobil, dia baru tahu kalau yang mengeluarkan umpatan adalah seorang perempuan bertubuh mungil. Sesaat saya sadar, kenapa juga harus meladeni umpatan itu, toh saya mengumpat juga tidak tahu artinya. Berarti saya sama gilanya. (Sampai kantor langsung googling arti kata ‘jancuk’,hehe..!) That’s rude! Dari yang semula saya pikir kata itu hanya a meaningless word, eh, jadinya malah a meaningful word.

if ‘don’t know what it means’…so, why did you say it? same like crazy people, they don’t know what they do and don’t know what they say… *komentar seorang teman*

Ahh..yang jelas saya jengkel. Maaf atas ketidaknyamanan sebuah kata.  :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s