Menjadi Kerlip Sebelum Cahaya

Banyak anggota tetapi satu tubuh. Mengutip homili Rm. Yosef Gheru Kaka, SVD pada misa pesta nama Salib Suci yang ke 22, tiap anggota tubuh memiliki fungsi yang berbeda tetapi masih pada satu tubuh. Ada beberapa organisasi katolik dan persekutuan doa yang dimiliki oleh paroki ini, masing-masing memiliki kekhasannya sendiri. Secara khusus, penulis akan memberikan pandangan mengenai organisasi OMK (Orang Muda Katolik).
Saat ini kepengurusan OMK Paroki Salib Suci digawangi oleh 35 orang OMK yang berasal dari berbagai wilayah. Seringkali, bahkan tertanam dipikiran umat maupun OMK Paroki Salib Suci, bahwa OMK Paroki (=Mudika Paroki) adalah hanya pengurus OMK saja. Padahal, OMK Paroki Salib Suci meliputi seluruh OMK di tiap-tiap wilayah. Mungkin, mind set itu ada karena yang muncul dan terlihat aktif hanya yang “itu-itu “ saja. Yang “itu-itu” saja, juga adalah OMK dari kelompok minat yang “itu-itu” saja.

OMK Paroki Salib Suci memiliki berbagai minat. Rentang usia pun cukup jauh berkisara umur 15-32 tahun. Tidak dipungkiri bahwa dengan beragam minat dan pautan usia itu, muncul gap-gap yang menyebabkan OMK Salib Suci kurang bersatu. Minat OMK dalam olahraga, paduan suara, band, dan kerohanian seolah berjalan sendiri, tidak terarah, tidak didalam satu lingkaran besar. Kisaran usia yang terpaut cukup jauh juga mempengaruhi pola pikir individu. Hal tersebut memicu rasa enggan, segan, dan tidak nyaman. Masing-masing kelompok minat tidak mau, atau lebih tepatnya merasa berat jika harus kedatangan penghuni baru dalam ‘rumah mungil’ mereka. Juga sebaliknya, karena merasa ‘rumah mungil’ mereka sangat nyaman, maka enggan dan segan untuk bertandang ke ‘rumah mungil’ yang lain. Hasilnya? Muncul jarak, OMK seakan terpecah oleh situasi seperti itu.

Ooh..ada lagi, penulis menyebutnya kelompok tanpa minat. Kelompok tanpa minat ini adalah OMK yang pasif. Diketahui dari hasil kunjungan pengurus Mudika Paroki periode 2005-2008, penyebab ketidakaktifan sebagian besar OMK Paroki Salib Suci, diantaranya: tidak ada motor penggerak, sibuk dengan urusan lain di luar gereja, tidak berminat pada organisasi, malu/takut tidak ada teman yang bisa diajak untuk bergabung, kurang/tidak ada dukungan dari orang tua, kurang/tidak ada pendamping dari wilayah sehingga potensi yang sebenarnya ada tidak muncul, malas karena tidak mendapatkan manfaat dari kegiatan mudika. Sebab-sebab diatas sangat klasik dan terkesan diada-adakan. Tapi itulah kondisi yang sebenarnya.

Peranan aktif OMK yang terbagi dalam beberapa kelompok minat itu, seperti : Regina Caeli (Paduan Suara OMK Paroki Salib Suci), Lektor, Pemazmur, Organis, petugas parkir dalam perayaan-perayaan besar, petugas persembahan dan kolektan, dianggap kurang atau belum cukup mewakili keberadaan kurang lebih 200 OMK se-Paroki Salib Suci. Gereja prihatin bahwa kemunculan OMK hanya pada acara tertentu saja. Seakan tidak ada kata cukup bagi OMK, karena masa muda adalah masa untuk berkarya.

Ketika dirasa sudah cukup umur bahkan terlalu tua untuk dibimbing, OMK Paroki Salib Suci tetap memerlukan figur pembina untuk mengarahkan perahu yang sedang didayung dan pemersatu. Saya, kami, OMK Salib Suci dengan ego, belum sepenuhnya terarah dan masih membutuhkan figur serta dukungan. Figur yang mengenal, dan memahami idealism, sekaligus mau mendengarkan pendapat, bisa menegur dengan kekhasan orang muda jika langkah yang diambil kurang tepat, mau bersahabat dengan orang muda.
Masa depan gereja ada di pundak OMK. Beban yang berat harus dipikul, tapi tidak perlu dirasakan dirasakan, melainkan bagaimana OMK harus menjadikan beban sebagai tanggung jawab. Keaktifan dan kesatuan OMK Paroki  Salib Suci bukan hanya ditangan para pengurus OMK saja, yang notabene juga masih OMK, yang (harus diakui) termasuk dalam kelompok minat itu sendiri. OMK Paroki Salib Suci membutuhkan dukungan dari banyak pihak, dari Gereja, Romo Paroki, Dewan Pengurus Pastoral, dan Umat.

Kalau sekarang OMK Paroki Salib Suci belum bisa menjadi cahaya bagi orang lain, OMK akan menjadi lilin, bahkan sekedar kerlip saja, saat ini sudah cukup.
Be a light, be a candle, be a twinkle in other people heart and mind.
(ajengerwita)

also posted @parokisalibsuci.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s